hai teman - teman keluarga baru saja merayakan ulang tahunku yang ke 7 aku waktu malam - malam aku dan kakakku dan ayahku juga mau ke lapiazza tapi kita beli ayam dulu nah pada saat itu tibalah hujan maka kita ke taman saja kita kemudian kakak ku mengasih kado tempat pensil
untuk aku sekolah aku sangat senang dan bahagia udah ketemu artis mrbee didepan mata dikasih hadiah lagi udah punya foto artis mr.bee tanda tangannya mr.bee udah artis mrbee ganteng - ganteng lagi :-) :D
Slide Title 1
Aenean quis facilisis massa. Cras justo odio, scelerisque nec dignissim quis, cursus a odio. Duis ut dui vel purus aliquet tristique.
Slide Title 2
Morbi quis tellus eu turpis lacinia pharetra non eget lectus. Vestibulum ante ipsum primis in faucibus orci luctus et ultrices posuere cubilia Curae; Donec.
Slide Title 3
In ornare lacus sit amet est aliquet ac tincidunt tellus semper. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.
Selasa, 31 Januari 2012
Kamis, 26 Januari 2012
Kamis, 21 Juli 2011
My Doll
Published :
11:13
Author :
Mutiara Rahma Aitika Andewa
Kamis, 14 Juli 2011
Munculnya Mr.Bee "Let Me Go"
Published :
00:59
Author :
Mutiara Rahma Aitika Andewa

Kritik superpedas di atas menyembul di forum dunia maya. Kritik yang membuat kuping Bobby (28) sempat memerah. Maklum, bintang sinetron Si Yoyo dan Cinta Fitri itu baru saja membentuk boy band, Mr. Bee.
Singel mereka, “Let Me Go”, karya Risna Ories mengangkasa di radio-radio daerah.
“Saya tahu betul, boy band pendahulu kami punya banyak penggemar sekaligus penghujat. Kalau kami lantas disamakan, itu konsekuensi. Tidak apa-apa,” ucap Bobby saat datang ke kantor Bintang beberapa waktu lalu.
Padahal, perjuangan Bobby meretas Mr. Bee tidak main-main. Faktanya, tak gampang mencari dan memadukan karakter Kornelius Christian (23), Febry Pramanda (21), Edho Zell (24), dan Febrian Novanda (22). Konsep Mr. Bee mulanya bukan lima serangkai.
“Awalnya, ingin membentuk trio. Waktu itu, label dan teman kurang yakin jika tampil bertiga. Lagi pula kalau trio, nanti kami disangka Trio Libels,” canda Bobby.
Bobby mencari para kandidat di situs jejaring sosial Twitter dan Facebook. Bahkan ia siap menerima demo vokal lewat surat elektronik.
“Suatu ketika saya jalan-jalan ke Interstudi Blok M. Seorang teman merekomendasikan nama dari A sampai Z. Lalu saya bertemu Febry Pramanda,” kenangnya. Ternyata, Febry dan Bobby pernah bertemu setengah tahun yang lalu.
Kala itu, Bobby memandu acara off air di Serpong, Tangerang.
“Saya pernah dikerjai Bobby. Setelah itu dia menyalami saya sambil berkata: Sampai bertemu, ya di dunia entertainment kelak. Mungkin ini yang disebut takdir,” Febry mengingat. Lain halnya dengan Febrian Novanda. Dulu, Febri adalah pembenci Bobby.
Febry ditemukan Bobby di kampus London School, Jakarta. Febri adalah president of choir.
“Waktu itu saya latihan di sana dan Bobby sedang hunting personel di tempat yang sama. Sebenarnya saya enggak suka Bobby. Dulu saya sering lihat Bobby di televisi di acara Super Soulmate. Menurut saya, dia sok eksis dan sering heboh sendiri. Mungkin ini yang namanya jodoh. Ternyata suara saya disukai. Sekarang malah kerja sama dengannya,” Febrian menukas.
Sementara Kornelius mengirimkan demo suara lewat voice note. Cerita menarik lainnya, datang dari Edho.
“Dia teman sejawat saya,” beri tahu Bobby.
Edho teman yang paling mendukung Bobby untuk membentuk boy band. Dia yang paling ceriwis menanyakan kabar proyek boy band lewat BlackBerry Messenger (BBM). “Hei, bagaimana proyek boy band? Sudah bereskah?” begitu Edho menyemangati.
Tapi tidak pernah terlintas dalam benak Bobby untuk mengajak teman dekat bergabung di sini. Lama-lama Bobby berpikir, kenapa Edho tidak diajak? Mengingat, dia menguasai dance, hip-hop, mahir ngerap.“Dan dia punya banyak sekali link menuju off air event. Itu yang penting. Hahaha,” sambungnya disusul derai tawa.
Berkaca dari pengalaman boy band lain, lima sekawan ini punya banyak siasat menangkis kritik pedas. Berangkat dari pemahaman, mulut orang tidak bisa diatur. Komentar adalah ungkapan spontan. Persoalannya, bagaimana menanggapi kritik dan menjawabnya dengan perubahan nyata. Kritik dijawab ketika menggelar show.
“Kami baru punya singel. Jadi kalau manggung, kami membawakan ‘Let Me Go’ dan hit lawas penyanyi lain. Misalnya, mengubah ‘C.I.N.T.A’ dari Bagindas yang mellow-Melayu menjadi jazz berbalut pop. Aransemen musik dan vokal baru adalah kuncinya,” Edho menjawab.
Tampaknya, metode ini terinspirasi inovasi Andi Rianto saat mengaransemen lagu-lagu hit dalam Harmoni. Publik masih ingat saat Andi menyulap “C.I.N.T.A” lalu dinyanyikan Vina Panduwinata dengan tempo upbeat, tidak ubahnya hit fenomenal “Burung Camar”.
Sabtu, 09 Juli 2011
My Name Mutiara Rahma Aitika Andewa
Published :
02:30
Author :
Mutiara Rahma Aitika Andewa
Langganan:
Entri (Atom)

